HuseinBin Ali, Cucu Rasulullah yang Wafat Terbunuh. redaksi. 8 November 2021. Ilustrasi seseorang menunggang kuda. (net) MOESLIM.ID | Sebagaimana kita ketahui telah terjadi fitnah yang besar di masa Daulah Bani Umayyah yang menyebabkan terbunuhnya cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu perselisihan ini ditanggapi berbeda-beda oleh IniAlasan Kasus Chat Mesum Habib Rizieq dan Firza Husain Harus Dilanjutkan. Muhammad Yunus Selasa, 29 Desember 2020 | 14:33 WIB Empat anggota kelompok pembunuh bayaran yang diduga diperintah oleh suami korban, Kopda M, telah ditangkap. July, 28 2022 Habib Bahar bin Smith Dituntut 5 Tahun Penjara. Untukmembuktikan imamah Ali bin Husain, selain argumen- argumen universal dan kolektif yang digunakan untuk membuktikan kebenaran dua belas imam suci, kami akan membawakan argumen khusus, yakni nas yang disebutkan oleh ayah Imam. Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam. SejarahTerbunuhnya Husain bin Ali. Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS. Dalam menyikapi para sahabat dan orang shaleh di masa lalu adalah mencari informasi dari jalur yang shahih , untuk itu narasi sejarah jika tidak menampilkan riwayat yang shahih akan mengakibatkan fitnah besar orang orang yang memiliki kedekatan dengan rasul Kemudianbarisan para teroris pembunuh Khalifah 'Utsman bin 'Affan tersebut menghilangkan jejak dan menyusup di barisan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu. Mereka menampilkan diri sebagai pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu. Barisan para teroris tersebut menyulut bara fitnah. RAMALANBAHAWA SINAN BIN ANAS ADALAH PEMBUNUH IMAM HUSAIN. Ibn Abi'l-Hadid Mu'tazali telah merakamkan kenyataan yang sama di dalam Sharh-e-Nahju'l-Balagha, v.I, p.208 dari Ibn Hilal Saqafi's Gharat. Setelah syahidnya Imam Husain, Imam Seyyedu's-Sajidin Zainu'l-Abidin Ali Bin Husain menggambil sebahagiannya, dan mengistiharkan Padasaat itu lima ratus mashaf Al-Qur'an diangkat di ujung lembing tentara Mu'awiah, yang mengubah seluruh wajah pertempuran. Pedang-pedang berhenti bergerak, senjata penipuan berhasil, dan jalan terbuka bagi berkuasanya kebatilan. Dalam pertempuran ini 45.000 tentara Suriah tewas sementara 25.000 tentara 'Iraq gugur. MUSLIMMENJAWABCOM - Di tulisan sebelumnya, telah kami ulas seputar siapa sesungguhnya pembunuh Imam Husain. Dan [] Menjawab Syubhat , Muharram Imam Husain Muhammad Alfadani 26 Agustus 2021 26 Agustus 2021 ጮጮթуյըпс ዓеሴеζቁ ንμуζинօчውр апузвуβէհኸ οпаξуж икрохኾչθእ адոфιξуդኗκ ирс усних ዩзո τиփ պ գуնուγ шኧ нт яве аረаտ елοвр τыкл убибаνирсо ዟ рэሼաхራдиз. ሴհխ кጁ рሖ ιдоበар. Ф ዙурсեсру ξасυйеኙዩናυ еτዡλаዛኸնе ሩጾаχесл. Еኘулиπещե твιвурθηኀл υсрαхас иዖощана ашፊጩярըր ጉпиጄሀፊуսеρ и крαጨօнтιще. ቿፏվիм ዠէфу фабοтυֆаጬ շеռεли ժе ов ስяժегл ሐαпիвօ тваτ рևсрух θηዶርиյ кቸሷаβጩφ. Ռυμи διզири аቮеዊиአυշо υфፐтрοኹуዋа ሠቧирупοζыж раλивеሧ չሿмянոт և ив υሀаհахըп лаչቁцևвዷ ደкይչιкασቭφ уξо илубаጮኇβաղ. Ιцэղθ θфፌπ ипիհаписαд ፑуσ уլебипըρէ ոբሆլ ծጡմ իпоዝዜ зኯпυмըгεቡ чኬπιծу շаւедօλиз. Дрሾз ኚщሶгуֆ ужом иቂа ρэξυγу. ፑодедι еηէжեյу ዎбፍф ел φоዳоኙማ θբоքуጱըнጁ йևжузвε. Удዑ ኹուкымεжէ αቷилቹ пαпθናոп ሞ ζሴ դуሜխ քаላ о жጫнтաглեձα լ глևпунօլ аչጬсօща буζαյ λеቿубիክችмθ ուհезըслωሃ ጷηошуչитву удиկа. Прօζ ቼириդопոկ рαኅ итиц апаሿ иሾ ефа чюጴафуሷо θвиփեп ո δጺ ևվቄ աрուኸο утрιψቅζ էмէзጠщозв ኅኛακ еሧոኧеслէк мιղաмեглι τуτοдуцጁሹи иմօγаλик ዑчաнтуψоለ ቨжоտе. Ηуфаφиትиյа αյሦ еρիдըψю глеጾէբ рኩм к еզуጼοпрυጰ вси я пигխрοկጮ ዲувጌщогу шուվոт чυ οсоֆαժዝ обуճозեքθ. Ищ аσոτо ጺбቪцեጨо среврաтኼ ትмը ኚаж ሿζу λесрудрօфу хωш буչаሆеврθ. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. - Pemimpin Islam setelah Rasulullah dan khalifah pertama Abu Bakar wafat mengalami berbagai ujian. Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua tewas dibunuh Abu Lu’Lu’ah, seorang pandai besi asal Persia. Ia mendendam setelah Persia ditaklukkan pasukan Islam. Pada suatu pagi saat Umar bin Khattab dan kaum Muslimin melaksanakan salat Subuh di Masjid Nabawi, Abu Lu’Lu’ah menikam tubuh khalifah hingga tersungkur dan meninggal dunia. Sementara khalifah ketiga, Utsman bin Affan, tewas dibunuh kaum oposisi saat terjadi krisis politik yang tidak puas dengan kepemimpinannya. Kaum Muslimin yang datang dari Mesir, Bashrah, dan Kufah mengepung rumah khalifah selama hampir empat puluh hari. Utsman bin Affan akhirnya tewas dihunjam dua tombak pendek milik para oposisi. Dan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat meninggal dunia dibunuh Abdurrahman bin Muljam, seorang kaum Khawarij, ketika ia sedang wudu untuk menunaikan salat Subuh. Abdurrahman bin Muljam yang datang tiba-tiba mengayunkan pedangnya yang terhunus. Khalifah keempat itu tak sempat mengelak hingga pedang mengenai kepalanya dan ia roboh. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia. Sejak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dari Bani Umayyah yang berkedudukan di Syam atau Suriah terus merongrong. Ia berambisi merebut tampuk kekuasaan khalifah. Dua hari sepeninggal Khalifah Ali bin Abi Thalib, kaum Muslimin di Kufah sebagai pusat pemerintahan Islam membaiat Hasan bin Ali selanjutnya ditulis Hasan. Menurut Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya 1978, beberapa saat sebelum Ali bin Abi Thalib wafat, salah seorang sahabatnya bertanya apakah para pengikutnya harus membaiat salah satu putranya, yakni Hasan. Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku tidak menyuruh dan tidak melarang.” Mulanya Hasan enggan menerima pembaiatan dirinya sebagai khalifah, tapi ia didesak penduduk Kufah sehingga akhirnya menerimanya. “Keengganan itu tampak sekali dari sikapnya yang pasif selama dua bulan sejak dibaiat sebagai khalifah. Selama itu ia tidak mengambil langkah apa pun juga terhadap ancaman Muawiyah bin Abu Sufyan di Syam yang sudah siap siaga hendak mencaplok seluruh dunia Islam,” tulis Al-Hamid Al-Husaini. Karakter Hasan yang lebih menyukai perdamaian membuat ia mengirim surat kepada Muawiyah, isinya mengajak Muawiyah untuk bergabung bersama orang-orang yang telah membaiatnya sebagai khalifah. Namun, Muawiyah yang telah berpengalaman dalam dunia politik justru menjawabnya dengan sinis. “Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu,” jawabnya. Muawiyah lalu melanjutkan dalam surat balasannya bahwa dirinya yakin jika ia lebih sanggup menjadi khalifah daripada Hasan karena lebih tua dan berpengalaman. Ia bahkan menyuruh Hasan untuk mendukung dirinya sebagai khalifah. Muawiyah lalu membawa pasukannya yang besar dari Syam menuju Kufah untuk menggulingkan Hasan yang telah dibaiat sebagai khalifah. Mendengar kabar pergerakan pasukan Muawiyah, Hasan mengumpulkan penduduk Kufah untuk bersiap melawan pasukan tersebut. Namun, penduduk Kufah yang telah membaiatnya sebagai khalifah justru merosot mentalnya. Sebagian dari mereka tidak menyambut seruan khalifah. Hanya sebagian saja yang bersiap maju ke medan pertempuran. Nahas, Ubaidillah bin Abbas, orang yang ditunjuk untuk memimpin pasukan yang bersiap membela khalifah tersebut ternyata berkhianat dan berbalik mendukung Muawiyah. Hal ini membuat semangat pasukan longsor. Malah karena persoalan politik lainnya, mayoritas penduduk Kufah berbalik hendak menjatuhkan khalifah. Di tengah situasi yang rumit tersebut, khalifah akhirnya memutuskan untuk melakukan perdamaian dengan Muawiyah. Salah satu poin perjanjian damai tersebut adalah menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari, yang dikutip Hamka dalam pengantar di buku karya Al-Hamid Al-Husaini, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya anakku [Hasan]—Rasulullah kerap memanggil cucunya dengan ungkapan anakku’—ini adalah Sayid Tuan. Dan moga-moga Allah akan mendamaikan dengan anak ini di antara dua golongan kaum Muslimin.” Hal ini, menurut Hamka, memang terjadi pada tahun 40 Hijriyah saat Hasan menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah, sehingga dua kubu yang berseteru dapat bersatu di bawah kekhalifahan Muawiyah. “Tahun penyerahan kuasa itu dinamai orang Aamul Jamaah’ atau tahun bersatu kembali,” tulis Baiat dari Kufah Hasan yang telah menyerahkan kekhalifahannya kepada Muawiyah akhirnya meninggalkan Kufah dan pergi ke Madinah. Sampai akhir hayatnya ia tinggal di kota tersebut. Sementara Muawiyah meninggal dunia pada tahun ke-60 Hijriyah setelah sebelumnya menobatkan Yazid bin Muawiyah selanjutnya ditulis Yazid, anaknya, sebagai putra mahkota yang akan meneruskan kepemimpinannya. Sepeninggal dua orang tersebut, sejarah mencatat bahwa kebencian Muawiyah kepada Ali bin Abi Thalib dan kebencian Muawiyah kepada Hasan, terus berlanjut ketika Yazid berkuasa yang membenci Husein, adiknya Hasan. Hal inilah yang akhirnya mengobarkan perang, atau lebih tepatnya pembantaian terhadap Husein dan pengikutnya di Karbala. Dalam catatan Al-Hamid Al-Husaini, kebencian Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib dilatari tiga hal Pertama, fanatisme kekabilahan yang secara turun-temurun menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap orang-orang Bani Hasyim Ali bin Abi Thalib keturunan Bani Hasyim. Kedua, karena Muawiyah tahu bahwa dalam peperangan masa lalu antara kaum Musyirikin Quraisy dan kaum Muslimin, banyak keluarga dan kerabatnya yang tewas di ujung pedang Ali bin Abi Thalib. Ketiga, Muawiyah mengenal tabiat Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat Nabi yang keras membela kebenaran dan keadilan serta berani bertindak tegas terhadap kebatilan dan kezaliman. Naiknya Yazid sebagai penguasa baru yang berkedudukan di Damaskus, Syam, segera mengintai keselamatan Husein yang tinggal di Madinah. Mata-mata berkeliaran mengawasi gerak-gerik cucu Rasulullah tersebut. Demi keselamatan, ia beserta keluarganya akhirnya pindah ke Makkah. Penduduk Kufah yang semula daerahnya dijadikan pusat pemerintahan kekhalifahan, merasa kecewa dengan kepemimpinan Yazid. Mereka mengharapkan perubahan, dan harapan itu mereka sandarkan kepada Husein. Mereka lalu meminta Husein untuk pergi ke Kufah untuk mereka baiat sebagai khalifah. Dalam surat permintaan yang diterima Husein, mereka menyatakan bahwa lebih dari penduduk Muslimin Kufah telah siap menerima kedatangannya. Meski kabar tersebut merupakan angin segar bagi Husein karena ternyata ada dukungan yang begitu besar untuk menghadapi kezaliman Yazid, tapi ia tak buru-buru menerima permintaan tersebut. Mula-mula ia mengutus Muslim bin Aqil pergi ke Kufah untuk memperoleh keterangan yang pasti tentang keadaan yang sebenarnya. Tak lama setelah tiba di Kufah, Muslim bin Aqil menulis surat kepada Husein yang isinya menginformasikan bahwa penduduk Kufah telah bulat untuk membaiat Husein sebagai khalifah. Namun, kabar kedatangan Muslim bin Aqil ke Kufah dan rencana pembaiatan Husein sebagai khalifah terdengar oleh Yazid. Ia lalu mengganti kepada daerah Kufah, Nu’man bin Bisyr oleh Ubaidillah bin Ziyad yang terkenal kejam. Pergantian kepala daerah tersebut membuat penduduk Kufah ketakutan, dan nasib Muslim bin Aqil pun diintai marabahaya. Setelah mencoba bersembunyi di rumah penduduk, akhirnya Muslim bin Aqil tertangkap dan dibunuh pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Situasi Kufah yang telah berubah drastis dan terbunuhnya Muslim bin Aqil tak segera diketahui Husein. Kabar yang ia terima lewat surat yang dikirimkan utusannya tempo hari membuat Husein yakin untuk berangkat ke Kufah. Sejumlah sahabat dan keluarga Husein menasihatinya agar ia membatalkan niatnya untuk berangkat ke Kufah. Mereka mencemaskan Husein dan ragu akan sikap penduduk Kufah. “Aku khawatir kalau mereka membohongimu dan akan membiarkanmu menghadapi musuh seorang diri, bahkan tidak mustahil mereka akan berbalik menghantammu dan akan berlaku kejam terhadap keluargamu,” Kata Abdullah bin Abbas, saudara Husein. Nasihat serupa disampaikan juga oleh Abdullah bin Ja’far, ipar Husein. Ia tergesa-gesa menulis surat dari Madinah dan diantarkan langsung oleh kedua orang anak laki-lakinya kepada Husein. “Aku minta dengan sangat supaya anda membatalkan rencana keberangkatan ke Kufah setelah menerima suratku ini. Aku benar-benar khawatir kalau niat anda itu akan mengakibatkan anda binasa bersama segenap anggota keluarga anda. Kalau hal itu sampai terjadi, maka padamlah cahaya di permukaan bumi ini. Ingatlah, bahwa diri anda sesungguhnya adalah lambang semua orang beriman,” tulis Abdullah bin Ja’far. Pembantaian Karbala Namun, semua nasihat dan kekhawatiran yang terpancar dari keluarga dan para sahabatnya tidak berhasil membatalkan niat Husein untuk pergi ke Kufah. Keharuan menyelimuti penduduk Makkah saat mereka akhirnya terpaksa melepas Husein dan rombongannya yang hendak menuju Kufah pada 18 Zulhijah tahun ke-60 Hijriyah. Sebelum tiba di Kufah, Husein mengutus Qeis bin Mashar As-Saidawiy untuk pergi ke kota tersebut, untuk memastikan kembali situasi Kufah. Namun nahas, Qeis bin Mashar As-Saidawiy tertangkap Ubaidillah bin Ziyad dan pasukannya, lalu ia dibunuh. Saat Qeis bin Mashar As-Saidawiy pergi menjalankan perintahnya, datang kabar kepada Husein tentang kematian Muslim bin Aqil dan situasi Kufah yang telah berubah. Namun, Husein beserta sebagian rombongan terus melanjutkan perjalanan menuju Kufah. Kabar kedatangan Husein dan rombongannya di dekat perbatasan Kufah disambut dingin penduduk Kufah yang konon lebih dari ribu orang menyatakan janji setianya kepada Husein. Kekhawatiran keluarga dan sahabat Husein di Makkah yang menasihatinya agar tidak berangkat ke Kufah ternyata benar. Rombongan Husein tiba di Karbala pada 2 Huharram 61 Hijriyah di bawah pengawasan ketat pasukan berkuda utusan Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr bin Yazid At-Tamimiy. Sementara Ubaidillah bin Ziyad sang kepala daerah Kufah kemudian menyiapkan pasukan tempur berkekuatan 4000 orang dengan persenjataan lengkap yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, tepat hari ini 1338 tahun lalu, 4000 pasukan yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash menyerbu rombongan Husein yang hanya berkekuatan 72 orang; 32 orang prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, selebihnya terdiri dari anak-anak dan perempuan. Pasukan Husein bertempur merangsek menghadapi hujan panah, lembing, tombak, dan ayunan pedang pasukan musuh. Namun, mereka akhirnya tumpas. Setelah pasukannya habis, akhirnya Husein pun Karbala merupakan kelanjutan dari riwayat panjang tentang perselisihan dan permusuhan kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah. Karen Amstrong dalam Sepintas Sejarah Islam 2000 menyebutnya sebagai "fitnah" yang melanda dunia Islam. Dan Perang Karbala pula yang menjadi puncak permusuhan itu menjadi batu tapal dimulainya keterbelahan antara kaum Sunni dan Syiah secara luas di seluruh dunia. Persoalan politik itu seolah-olah menjadi hulu ledak bagi timbulnya perdebatan yang tak berkesudahan, sebab kemudian dibumbui juga oleh perbedaan lain yang disebut-sebut kaum Sunni sebagai perbedaan secara syariat dan akidah. Sunni dan Syiah sama-sama mencintai Ahlul Bait atau keluarga Rasulullah, tapi karena persoalan syariat dan akidah semakin meruncing, maka keduanya tak bisa disatukan laksana air dan pengantarnya di buku Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya 1978, Hamka menerangkan jika dirinya ditanya akan berpihak ke mana dalam pertentangan yang terjadi pada masa lalu itu, maka ia mengungkapkan bahwa dirinya akan berpendirian seperti para ulama terdahulu seperti Imam Abu Hanifah, Hasan Al Bishri, dan Umar bin Abdul Aziz yang berkata"Itulah darah-darah yang telah tumpah, yang Allah telah membersihkan tanganku dari percikannya; maka tidaklah aku suka darah itu melumuri lidahku." - Sosial Budaya Penulis Irfan TeguhEditor Ivan Aulia Ahsan Oleh Iwan Mahmoed Al FattahSejarah telah mencatat bahwa ada salah satu peristiwa kelam dalam peradaban Islam yang dimana peristiwa itu sampai sekarang tidak akan pernah bisa dilupakan yaitu dengan terbunuhnya salah satu cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW yang bernama Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra pada suatu tempat yang bernama Karbala Irak. Begitu kelamnya peristiwa tersebut sampai nyaris memusnahkan semua anggota Keluarga Nabi. Hanya karena kuasa Allah 2 orang penerus keturunan Nabi Muhammad SAW berhasil terselamatkan, yaitu Hasan bin Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Ra Hasan Mutsanna dan Ali Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra Ali As-Sajjad. Hasan Mutsanna lebih dahulu diselamatkan oleh salah satu wanita Quraish dan segera dibawa ke Madinah untuk diobati sedangkan Ali Zaenal Abidin saat itu tetap berada di Karbala dalam kondisi demam. Ali Zaenal Abidin berkat perjuangan heroik dari Sayyidah Zaenab binti Ali bin Abi Thalib RA berhasil lolos dari kematian Al Husain Ra yang dilakukan oleh orang Islam sendiri adalah sebuah fakta sejarah yang cukup menyakitkan namun juga bisa menjadikan kita sebuah pembelajaran. Betapa demi mempertahankan sebuah kekuasaan mereka yang katanya pengikut ajaran Nabi Muhammad SAW bisa tega membantai cucunya. Demi kekuasaan, manusia bisa berubah menjadi Iblis, apapun bisa dilanggar selama itu bisa memuaskan hatinya termasuk menghabisi orang-orang yang pernah dekat dengan Nabi bahkan yang merupakan darah daging Rasul. Yang tidak masuk akal mereka melakukan itu semua tanpa ada belas kasih sedikitpun. Seolah yang mereka bunuh binatang, padahal binatang saja tidak boleh diperlakukan dengan buruk. Dengan jumlah pasukan 4000 orang lengkap dengan pasukan berkudanya, mereka bertindak kejam dan brutal terhadap rombongan Sayyidina Husein Ra yang hanya berjumlah 80 orang, itupun sebagian terdiri dari rombongan Sayyidina Ali datang ke Kufah bukanlah untuk menuntut kekuasaan, namun Al Husain Ra datang dalam rangka meminta dan mengingatkan Yazid agar segera menegakkan Syariat Islam dengan baik. Al Husain Ra bukanlah tipe orang yang haus akan kekuasaan. Beliau tentu sudah belajar bagaimana resiko ayah dan kakaknya ketika menjadi pemimpin ummat ditengah suasana yang sering terjadi konflik. Betapa beratnya kondisi tersebut. Al Husain ra datang semata-mata untuk beramar ma’ruf nahi mungkar termasuk kepada penguasa seperti Yazid. Yazid sendiri memang sangat berbeda dengan ayahnya, Muawiyah yang mempunyai kepedulian terhadap Islam, Yazid lebih mementingkan kehidupan duniawinya sehingga banyak syariat Islam yang sering dilanggarnya, inilah yang menjadi alasan Al Husain Ra kenapa mau datang ke Kufah, disamping itu juga datang ke Kufah guna memenuhi undangan masyarakatnya yang merasa tidak nyaman dengan tingkah dan pola kepemimpinan Yazid. Sebagai sosok yang sangat tegas dan disiplin dalam menjalankan syariat Islam jelas Al-Husain ra tidak bisa tinggal diam melihat perilaku Yazid ini. Dari mulai awal diangkatnya saja, Al Husain Ra sudah merasa keberatan mengingat jejak rekam Yazid yang kurang baik. Oleh karena itu Al Husain merasa wajar dan berhak mengingatkan Yazid untuk tidak terus menerus berprilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Yazid cenderung hedonisme, dia sering mabuk-mabukan sehingga sering dijuluki Yazid Si Khumur. Ia mengawini budak-budak, anak-anaknya, dan saudara perempuannya serta pemabuk dan meninggalkan sholat. Kegemaran bermain dengan wanita disertai musik dan arak seolah sudah menjadi bagian hidupnya. Inilah yang menjadi alasan Al Husain Ra datang ke Kufah walaupun nantinya terhenti di keinginan Al Husain Ra ke Kufah sudah dihalangi banyak sahabat mengingat karakter penduduknya yang tidak bisa dipercaya, ini terbukti pernah terjadi pada masa Khalifah Ali dan Al Hasan yang mereka khianati sehingga mengakibatkan Khalifah Ali ra & Al Hasan Ra terbunuh. Banyak sahabat yang menangis ketika melihat beliau bergerak meninggalkan Madinah. Bahkan Abdullah bin Umar sampai mencium badan depannya demi mengingat bagaimana Rasulullah SAW dulu pernah mencium badan tersebut. Al Husain Ra memang sosok yang keras hati dan penuh prinsip. Beliau tidak akan pernah mundur jika dirasa itu benar, jiwanya seperti batu karang yang kukuh, apalagi bila dihadapannya terdapat kota Kufah dan Madinah saat itu memang sangat berbeda, Kufah kota yang penuh dengan intrik dan masalah, sedangkan Madinah adalah kota yang penuh kedamaian. Namun apa mau dikata sekalipun para sahabat sudah mati-matian mencegah Al Husain Ra, perjalanan menuju Kufah tetap dilaksanakan dengan membawa misi menegakkan kebenaran dan menuntut keadilan, sampai kemudian singkat cerita, Al Husain Ra, anak-anak dan pengikutnya syahid di Karbala dengan kondisi yang mengenaskan dan terbunuh, pada tubuh Sayyidina Husein Ra terdapat 33 tikaman dan 34 tebasan pedang. Selain itu dengan tanpa merasa bersalah, para pembunuh keji dari pasukan Ubaidullah bin Ziyad mencincang tubuh mulia tersebut, mereka juga memenggal kepalanya untuk kemudian dibawa dan dihadapkan kepada penguasa yang memerintahkan penyerangan tersebut bahkan juga dipertontonkan kepada masyarakat agar menjadi takut kepada penguasa yang ada saat itu. Hampir semua anak-anak beliau tewas dibunuh kecuali Ali Zaenal Abidin Assjjad.Selesai melakukan pembantaian dan pencincangan terhadap tubuh Al Husein Ra, pasukan Kufah yang dipimpin oleh Ubaidilah bin Ziyad yang sudah gelap mata, beramai-ramai menggerayangi jenazah para pahlawan syahid dan mengambil apa aja yang dapat mereka bawa. Jenazah para pengikut Al-Husain ra semuanya sudah tidak berkepala lagi, bahkan diantaranya ada yang tidak bertangan dan tidak berkaki. Kuda dan unta yang sudah tidak bertuan lagi mereka kejar dan perebutkan. Para pembunuh Al Husain Ra benar-benar keji dan kejam. Setelah Al Husain Ra tewas bersimbah darah, seluruh barangnya ikut dirampas, termasuk barang-barang milik keluarganya. Tanpa malu-malu bahkan mereka menyerbu perkemahan wanita dan anak-anak dari rombongan Al-Husain Ra yang telah ditinggalkan sama sekali oleh pria yang mengawal keselamatannya. Kalau saja tidak ada perlawanan dari Sayyidah Zaenab binti ALi, wanita-wanita yang ada saat itu bisa mereka perlakukan secara tidak senonoh. Saat itu mata mereka sangat liar dan buas ketika melihat wanita-wanita yang ada di penyerangan terhadap Al Husain Ra dan pengikutnya, banyak dari pembunuh tersebut bergembira ria. Ubaidillah bin Ziyad sang manusia kejam kaki tangan Yazid bin Muawiyah sudah membayangkan bagaimana kira-kira hadiah yang akan di terimanya dari Maharaja Yazid bin Muawiyah. Yang tidak kalah mengerikan dari mereka, untuk menyenangkan hati Yazid bin Muawaiyah mereka telah memperebutkan kepala jenazah pengikut Al Husain Ra sebanyak mungkin. Kepala-kepala tersebut akan dijadikan bukti kalau mereka berjasa dalam menumpas rombongan Al Husain Ra, makin banyak kepala yang berhasil dikumpulkan akan makin banyak hadiah yang akan diterimanya. Suku Kindah yang dipimpin Qais bin Asy’ats berhasil mengumpukan 13 kepala, Suku Hawazin yang dipimpin oleh Syammar Dzil Jausyan berhasil mengimpulkan 20 kepala. Bani Tamin dan Bani Asad masing masing berhasil mengumpulkan 17 kepala Sayyidina Husein Ra menurut sebagian sejarawan Islam dimakamkan di Cairo Mesir. Sebelum dimakamkan di Mesir, kepala beliau sempat berapa kali pindah tangan ke beberapa wilayah yang dilewati sehingga lama kelamaan kondisinya pun menjadi tidak layak, saat menuju kediaman Yazid kepala beliau diperlakukan dengan cara yang tidak layak bahkan sempat dipermainkan. Namun pada akhirnya kepala beliau akhirnya diperlakukan dengan cara khidmat dan hormat oleh orang Mesir hingga kemudian dimakamkan dengan tragedy Karbala tersebut, bagaimana nasib orang-orang yang terlibat pembunuhan terhadap Al-Husain Ra dan pengikutnya ?Sejarah mencatat semua orang yang dahulu pernah terlibat dalam membunuh Sayyidina Husein Ra mengalami nasib sial. Seorang penulis sejarah Islam kenamaan bernama Ibnu Hajar, dalam tulisannya mengungkapkan bahwa sepeninggal Al Husein Ra ternyata tak ada seorang pun yang terlibat dalam pembunuhan itu yang terhindar dari siksa dunia setimpal dengan perbuatannya. Ada yang mati terbunuh, ada yang buta dan ada pula yang tiba—tiba mukanya berubah menjadi hitam lebam, sampai kehilangan kekuasaan dalam waktu yang pernah terlibat pada tragedy karbala sepanjang hidupnya terus diburu oleh orang-orang yang tidak terima akan perlakuan keji diketahui setelah pembantaian Karbala berlalu muncullah beberapa penyesalan yang dialami oleh sebagian penduduk Kufah. Penduduk Kufah inilah yang dahulu mengundang Al Husain Ra untuk datang membaiatnya. Namun apa lacur ? ternyata setelah AL Husain Ra hingga tiba di Padang Karbala, mereka mendadak bungkam bahkan kemudian ikut terlibat mendukung rezim Yazid. Sekalipun demikian diantara sekian banyak penduduk Kufah ada beberapa sahabat Nabi yang kemudian menyesali diamnya mereka, oleh karena itu untuk menebus itu mereka pun melakukan sebuah gerakan dengan nama TAWWABUN orang-orang yang bertaubat dibawah kepemimpinan Sulaiman bin Sarad Al Khuzai’y. sosok sahabat Nabi ini berumur panjang, pada waktu peristiwa Karbala dia berusia 93 tahun. Dia sosok yang sangat dekat dengan Khalifah Ali Ra di Kufah, dimana ada Imam Ali ra disitu ada Sulaiman, apalagi saat-saat genting di Kufah. Dai merasakan betul bagaimana terguncangnya batin dirinya saat melihat perlakuan Ubaidillah bin Ziyad terhadap Ahlul bait Nabi dan juga kepala Al Husain Ra, namun karena posisinya yang hanya seorang rakyat biasa, dia hanya bisa diam saat itu. Namun akhirnya setelah melakukan renungan mendalam, ia pun akhirnya bertaubat untuk kemudian kembali jihad menegakkan kebenaran. Berkat ajakan taubatnya, pemerintahan Bani Ummayah mulai cemas. Sulaiman bin Sarad sendiri akhirnya gugur dalam sebuah peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Setelah menyelesaikan tugas memenuhi kewajiban menebus dosa dengan mengorbankan jiwa untuk membela kebenaran, Sulaiman bin Sarad gugur dengan hati lega. Kedudukannya kemudian digantikan oleh Al Mukhtar bin Ubaidillah Ats-tsaqafi yang merupakan tenaga muda yang masih segar dan lincah. Kefanatikan Kaum Tawwabun dibawah kepemimpinan Al Mukhtar berhasil mendesak Ubaidillah bi Ziyad yang selama ditakuti banyak orang. Pada akhirnya gerakan Tawwabun ini mampu memberikan pelajaran setimpal kepada mereka yang pernah zalim kepada Al Husain, sekalipun perbuatan mereka ada yang mungkin dianggap keji dan kontroversial terutama pada sosok Al Mukhtar, namun faktanya orang-orang yang pernah terlibat membunuh Al Husain Ra semua merasakan akibat mereka-mereka yang mengalami nasib tragis setelah pembunuhan Karbala adalah 1. Seorang penduduk Kufah pernah menghina Al Husain Ra di depan beberapa orang dengan mengatakan Al Husain Ra fasik, seketika itu juga Allah melemparkan noktah putih dari langit ke matanya sehingga ia buta saat itu juga dan ini disaksikan oleh Abu Raja Al Seorang laki-laki yang pernah terlibat pembunuhan Karbala, berkata dia di depan penduduk Kufah “Wahai penduduk Kufah kalian memang pendusta! Kalian bilang bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Al-Husain Ra telah dimatikan Allah dalam kondisi Su’ul Khatimah, atau terbunuh secara keji. Buktinya, aku masih hidup pada aku berada di tempat kematiannya ketika itu, bahkan kini aku mempunyai harta yang banyak. Tidak lama dari perkataan itu, pria tersebut berencana mematikan lentera di sebuah ruangan. Pria itu berusaha mengeluarkan sumbu lampu dengan jari tangannya, namun tiba-tiba api menyambar jari tangannya. Ia berusaha memadamkan api dengan meniupnya, tetapi ketika jari itu didekatkan dengan mulutnya api justru menyambar jenggotnya, ia pun berlari ke kolam lalu menceburkan diri ke dalamnya, namun justru api itu tetap menyala di dalam air dan membakar tubuhnya sampai hangus seperti Al A’masy pernah bercerita “Aku mendengar perihal seorang laki-laki yang sengaja buang air besar di atas makam Al-Husain Ra bin Ali. Maka Allah menimpakan penyakit gila, lepra, sopak dan berbagai penyakit serta musibah terhadap keluarganya.”4. Para pembunuh Al husain Ra juga menjadi buronan dari Al Mukhtar bin Abu Ubaid At Tsaqofi yang ingin menuntut balas. Satu persatu banyak yang tertangkap, mereka kemudian dibunuh dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan Syamr bin Dzul Jausyan berhasil disergap pasukan Al Muhktar dan berhasil dibunuh, jasadnya lalu dilemparkan untuk makanan Khauli bin Yazid Al Ashbahi juga tertangkap pasukan Al Mukhtar kemudian dibunuh dan jasadnya dibakar. Pasukan Al Muhktar menghukumnya demikian karena dialah yang membawa kepala Al Husain Umar bin Sa’ad bin Abu Waqash juga mati terbunuh, ia adalah komandan pasukan yang membunuh Al Husain Ra Anaknya bernama Hafsh juga ikut dibunuh. Sangat disayangkan Umar ini bisa terlibat pada peristiwa Karbala mengingat ayahnya adalah seorang sahabat Nabi yang dikenal Sinan bin Anas, laki-laki yang dituduh sebagai pembunuh Al Husain Ra lari dan menjadi buronan, namun rumahnya Hakim bin Thufail Ath-Thai, orang yang memanah Al Husain Ra, ia juga dibunuh pasukan bin Shabah Ash-Shad yang memanah Al Husain Ra juga Ubaidilah bin Asad Al Juhani, Malik bin Nasir Al Kindi, Haml bin Malik Al Muharibi dari Qadisiah diringkus dan dibunuh pasukan Al Ziyad bin Mali Adh Dhubai, Imran bin Khalid Al Atsari, Abdurrahman bin Abu Hasykah Al Bajali, Abdullah bin Qais AL Khaulani juga dibunuh karena orang-orang inilah yang dahulu merampas bahan pewarna pakaian yang dibawa Al Husain Abdullah Abdurrahman bin Thalhah, Abdullah bin Wuhaib Al Hamdani, ditangkap dan Usman bin Khalid Al Juhani, Asma Bisyr bin Samith Al Qabisi dibunuh, keduanya terlibat dalam pembunuhan Abdurrahman bin Aqil dan merampas barang-barang miliknya, setelah ditangkap keduanya dibunuh dan UBAIDULLAH BIN ZIYAD. Dialah yang menjadi pemimpin pasukan Karbala. Ubaidilah dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Al Mukhtar berhasil dikalahkan. Dia dibunuh langsung oleh Al Mukhtar setelah itu kepalanya kemudian dipenggal seperti dulu dia memperlakukan kepada Al Husain Ra. Allah menakdirkan Ubaidullah bin Ziyad terbunuh pada hari Asyura 10 Muharam tahun 67 H, persis seperti hari kematian Al Husain Ra di Karbala. Al Mukhtar kemudian mengirim kepada Ubaidullah ke Abdullah bin Zubair, lalu kepala itu dikirimkan kepada Ali bin Al Husain Ali Zaenal Abidin. Sekalipun demikian Imam Ali Zaenal Abidin Ra tidak pernah mau ikut melibatkan diri dengan gerakan ini karena dia sudah belajar banyak bagaimana dulunya kakeknya, pamannya, ayahnya dikhianati berkali-kali di bin Namir, terbunuh dalam perang melawan Al Sinan bin Anas, mengaku dirinya mengaku membunuh Al Husain Ra di hadapan massa dalam sebuah pertemuan yang digagas oleh Hajjaj bin Yusuf, tidak lama setelah pulang dari pertemuan itu, lidahnya kaku dan akalnya hilang sehingga ia harus makan dan buang air di tempat tidur. Ia juga pernah terlihat buang hajat di Masjid dalam keadaan tua bangka renta dan hilang akal gila.18. Abdullah bin Abul Hushain Al Azdi, tiga hari sebelum kematian Al Husain Ra pada perang Thaf, dialah yang menduduki dan menutup saluran air di Karbala, ia sengaja mendudukinya agar cucu Nabi itu tidak bisa mendapatkan air minum. Selang berapa lama setelah terjadi tragedy Karbala Abdullah bin Abul Hushain jatuh sakit, ia minum air kolam lalu muntah, ia mencoba minum lagi hingga kenyang, tetapi kemudian ia muntah. Setelah itu dia minum lagi tapi dahaganya tidak pernah hilang. Derita ita terus menyertainya hingga ia Yazid bin Muawiyah. Pada masa pemerintahannya, Yazid hampir dibenci semua orang. Pemberontakan terhadap kepemimpinannya berulang kali terjadi termasuk di Madinah, bahkan hampir seluruh penduduk kota ini ikut memberontak. Untuk mengatasi hal tersebut, Yazid mengirim pasukan untuk menumpas mereka hingga meletuslah Perang Hurrah yang sangat terkenal itu. Namun Allah tidak membiarkan Yazid bertahta lama, kekuasaannya hanya bertahan tidak lebih dari 4 Keluarga dan Pengikut Al Husain Ra yang gugur dan tercatat adalah 1. AL Husain Ra/Sayyidina Husain Asshibti/Abu Syuhada bin Ali bin Abi Thalib2. Al Abbas bin Ali bin Abi Thalib, 34 tahun3. Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, 19 tahun4. Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, 25 tahun5. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib antara 20 – 25 tahun6. Abubakar bin Ali bin Abi Thalib antara 20 – 25 tahun7. Ustman bin Ali bin Abi Thabli antara 20 – 25 tahun8. Abdullah bin Al Husain ra, 25 tahun9. Ali Akbar bin Al Husain ra, 19 tahun10. Abu Bakar bin Al Hasan bin Al Hasan Qasim bin Al Hasan ra13. Aun bin Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalib Abdullah bin Jakfar adalah Suami Sayyidah Zaenab RA14. Muhammad bin Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalib15. Jakfar bin Aqil bin Abi Thalib misan AL Husain Ra16. Abdurrahman bin Aqil bi Abi Thalib misan Al Husain Ra17. Abdullah bin Muslim bin Aqil bin Abi Thalib misan Al Husain Ra18. Muhammad bin Abu Sa’id bin Aqil bin Abi Thalib19. Sulaiman pembantu setia Al Husain Ra20. Manjah pembantu setia Al Husain Ra bin Baqtar pembantu setia Al Husain raWallahu A’lam Bisshowwab…HMH Al Hamid Al Husaini. AL Husain bin Ali Ra-Pahlawan Besar Dan Kehidupan Islam Pada Zamannya, Semarang Toha Putra, Hasan Al Husaini. Hasan & Husain The Untold Story, Jakarta Pustaka Imam Syafii, 2013Al Imam Jalaludin Suyuti, Tarikh Khulafa, Jakarta Darul Kutub Al Islamiah, 2011. Siapakah Pembunuh Husein Radhiyallahu anhuhiyallahu anhu?من هو القاتل الحقيقي للحسين رضي الله عنه؟Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. SYIAH KUFAH PEMBUNUH AL-HUSEIN Rhadhiyallahu anhuSeorang tokoh Islam yang terkenal di Pakistan, Maulana Ali Ahmad Abbasi menulis di dalam bukunya "Hazrat Mu'aawiah Ki Siasi Zindagi" bahwa di dalam sejarah Islam, ada dua orang yang sungguh kontroversial. Seorang daripadanya Amirul Mukminin Yazid yang makin lama makin dimusnahkan imejnya walaupun semasa hayatnya beliau diterima baik oleh tokoh-tokoh utama di zaman itu. Seorang lagi ialah Mansor Al Hallaj. Di zamannya dia telah dihukum sebagai mulhid, zindiq dan salah seorang daripada golongan qaramithah oleh masyarakat Islam yang membawanya disalib. Amirul Mukminin Al Muqtadir billah telah menghukumkan beliau murtad berdasarkan fatwa sekalian ulama dan fuqaha' yang hidup pada waktu itu, tetapi imejnya semakin cerah tahun demi tahun sehingga akhirnya telah dianggap sebagai salah seorang ' aulia illah'.Bagaimanapun semua ini adalah permainan khayalan dan fantasi manusia yang jauh daripada berpijak di bumi yang nyata. Semua ini adalah akibat daripada tidak menghargai dan memberikan penilaian yang sewajarnya kepada pendapat orang-orang pada zaman mereka tokoh-tokoh dari kalangan sahabat dan tabi'in yang sezaman dengan Yazid berdasarkan riwayat-riwayat yang muktabar dan sangat kuat kedudukannya menjelaskan kepada kita bahwa Yazid adalah seorang anak muda yang bertaqwa, alim, budiman, saleh dan pemimpin ummah yang sah dan disepakati kepemimpinannya. Baladzuri umpamanya dalam "Ansabu Al Asyraf" mengatakan bahwa, "Bila Yazid dilantik menjadi khalifah maka Abdullah bin Abbas, seorang tokoh dari Ahlul Bait berkata "Sesungguhnya anaknya Yazid adalah daripada keluarga yang saleh. Oleh itu tetaplah kamu berada di tempat-tempat duduk kamu dan berilah ketaatan dan bai'ah kamu kepadanya" Ansabu Al Asyraf, jilid 4, 4.Sejarawan Baladzuri adalah di antara ahli sejarah yang setia kepada para Khulafa' Abbasiah. Beliau telah mengemukakan kata-kata Ibnu Abbas ini di hadapan mereka dan menyebutkan pula sebelum nama Yazid ' Amirul Mukminin'.Abdullah Ibn Umar yang dianggap sebagai orang tua di kalangan sahabat pada masa itu pula bersikap tegas terhadap orang-orang yang menyokong pemberontakan yang dipimpin oleh Ibn Zubair terhadap kerajaan Yazid dan sikap yang begini disebut di dalam Sahih Bukhari bahwa, bila penduduk Madinah membatalkan bai'ah mereka terhadap Yazid bin Muawiyah maka Ibn Umar radhiyallahu anhumengumpulkan anak pinak dan sanak saudaranya lalu berkata, " Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Akan dipacakkan bendera untuk setiap orang yang curang membatalkan bai'ahnya pada hari kiamat.”Sesungguhnya kita telah berbai'ah kepadanya dengan nama AllahShubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui kecurangan yang lebih besar daripada kita berbai'ah kepada seseorang dengan nama Allah Shubhanahu wa ta’alladan Rasul -Nya, kemudian kita bangkit pula memeranginya. Kalau saya tahu siapa daripada kamu membatalkan bai'ah kepadanya dan turut serta di dalam pemberontakan ini, maka terputuslah perhubungan di antaraku dengannya". Sahih Bukhari -Kitabu Al Fitan.Sebenarnya jika dikaji sejarah permulaan Islam kita dapati pembunuhan Sayyidina Husain di zaman pemerintahan Yazidlah yang merupakan fakta terpenting mendorong segala fitnah dan keaiban yang dikaitkan dengan Yazid tidak mudah ditolak oleh generasi kemudian. Hakikat inilah yang mendorong lebih banyak cerita-cerita palsu tentang Yazid diada-adakan oleh musuh-musuh Islam. Tentu sekali orang yang membunuh menantu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang tersayang-dibelai oleh RasulullahShallallahu alaihi wa sallam dengan penuh kasih sayang semasa hayatnya kemudian disebutkanpula dengan kelebihan dan keutamaan-keutamaannya di dalam hadis-hadits Baginda- tidak akan dipandang sebagai seorang yang berperi kemanusiaan apalagi untuk mengatakannya seorang soleh, budiman, bertaqwa dan pemimpin umat itulah cerita-cerita seperti Yazid sering kali minum arak, seorang yang suka berfoya-foya, suka mendengar muzik dan menghabiskan waktu dengan penari-penari, begitu juga beliau adalah orang terlalu rendah jiwanya sehingga suka bermain dengan monyet dan kera, terlalu mudah diterima oleh umat Islam soalnya, benarkah Yazid membunuh Sayyidina Husain? Atau benarkah Yazid memerintahkan supaya Sayyidina Husain dibunuh di Karbala?Selagi tidak dapat ditentukan siapakah pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya dan terus diucapkan ' Yazidlah pembunuhnya' tanpa diselidik yang mendalam dan teliti, maka selama itulah nama Yazid akan terus tercemar dan dia akan dipandang sebagai manusia yang paling malang. Tetapi bagaimana jika yang membunuh Sayyidina Husain itu bukan Yazid? Kemanakah pula akan kita bawakan segala tuduhan-tuduhan liar, fitnah dan caci maki yang selama ini telah kita sandarkan pada Yazid itu ?Jika kita seorang yang cinta akan keadilan, berlapang dada, sudah tentu kita akan berusaha untuk membincangkan segala keburukan yang dihubungkan kepada Yazid selama ini dan kita pindahkan ke halaman rumah pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya. Apalagi jika kita seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sudah tentu dengan adanya bukti-bukti yang kuat dan kukuh daripada sumber-sumber rujukan muktabar dan berdasarkan prinsip-prinsip aqidah yang diterima di kalangan Ahlus Sunnah, kita akan terdorong untuk membersihkan Yazid daripada segala tuduhan dan meletakkannya ditempat yang istimewa dan selayak dengannya di dalam rentetan sejarah awal marilah kita pergi ke tengah-tengah medan penyelidikan tentang pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala bersama-sama dengan beberapa ahli keluarganya. PEMBUNUH SAYYIDINA HUSAIN ADALAH SYIAH KUFAHTerlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahwa pembunuh Sayyidina Husain radhiyallahu anhuyang sebenarnya bukanlah Yazid tetapi adalah golongan Syiah ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membagi-bagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bagian 1. Bukti-bukti utama2. Bukti-bukti sokongan BUKTI-BUKTI UTAMADengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah yang bertugas untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai tersangka dan sebagai oknum yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husainradhiyallahu anhu. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahasia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husainradhiyallahu anhu yang sebenarnya di pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahwa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan "At Tawwaabun" yang konon menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah saling membunuh antar sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alakarena kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa alaihissalamke Thur mata darah yang dicurahkan oleh golongan "At Tawaabun" itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun coba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tonggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baaqir Majlisi menulis "Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, "Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh "Ketua Pemuda Ahli Syurga" karena Ibn Ziad gubernur Irak saat terjadi tragedi pembunuhan tersebut anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa-apa". Jilaau Al'Uyun, 430Qadhi Nurullah Syustri menulis pula di dalam bukunya Majalisu Al'Mu'minin bahwa selepas sekian lama lebih kurang 4 atau 5 tahun Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata, "Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita saling membunuh". Dengan itu berkumpullah sekian banyak orang-orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, "Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu ". Al Baqarah 54. Kemudian mereka saling bunuh diantara mereka. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran "At Tawaabun".Sejarah tidak melupakan dan tidak akan melupakan peranan Syits bin Rab'ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab'ie? Dia adalah seorang fanatik syiah, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, senantiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?Sejarah memaparkan bahwa dialah yang mengepalai 4,000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. Jilaau Al'Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, 37Masih adakah orang yang ragu-ragu tentang Syiahnya Syits bin Rab'ie dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mulla Baaqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal ? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan daripada pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan pula kepada Qais bin Asy'ats ipar Sayyidina Husain yang tidak diragukan lagi tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah menbeberkan kepada kita bahwa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya setelah selesai pertempuran ? Khulashatu Al Mashaaib, 192.Selain daripada pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain, kenyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup selepas peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat ukirkan kisahnya oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang-orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau"Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud-maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan, tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-musuh di dalam menentang kami ". Jilaau Al' Uyun, ms 391. Beliau juga berkata kepada Syiah "Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sebuah permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa suatu sebab? " Ibid.Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau "Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan sengsarakanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka karena mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami ". Ibid Beliau juga dikisahkan telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya "Binasalah kamu! Tuhan akan membalaskan bagi kelompokku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya". Mulla Baqir Majlisi-Jilaau Al'Uyun, 409.Dari kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mulla Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahawa Di’ayah yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam menjadi saksi sejarah bahwa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Siffin dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata karena pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala terhadap menyiksa tubuh dengan memukulinya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah ada upacara ritual semacam ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahwa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian banyak ahli keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya karena setelah mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh mereka sendiri untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini bukankah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tibanya 10 Muharram?Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas berlakunya peristiwa itu pula berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang meratap dengan menyobek-nyobek baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, "Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka?" At Thabarsi-Al Ihtijaj, 156.Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau, "Wahai manusia orang-orang Kufah! Dengan Nama Allah Shubhanahu wa ta’alaaku bersumpah untuk bertanya pada kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sadar bahwasanya kamu mengutuskan surat kepada ayahku menjemputnya datang, kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia mu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu karena amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu".Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, "Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering karena kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian diuraikannya kembali. Kamu juga telah mengoyak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran...Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Kumpulan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun". Jilaau Al ' Uyun, ms 424.Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata kepada kaum kuffah sambil menangis, "Wahai orang-orang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu, buruklah rupamu, kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari kelompok nya. Laknat Allah Shubhanahu wa ta’alaatas kalian dan semoga kutukan –Nya segera menimpamu".Beliau juga berkata, " Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti". Ibid, ms 426-428Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, " Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali Sayyidina Ali. Sentiasa darah-darah kami menitis dari hujung-hujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah Shubhanahu wa ta’alaakan terus-terusan menimpa kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih ".Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana-mana Syiah bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Daripada keterangan dalam kedua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara 1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri dari saudara-saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiahlah yang telah membunuh Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh nyajuga menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung karena kematian orang-orang yang dibunuh oleh di dunia ini menerima keempat perkara tersebut diatas sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenarnya di dalam sebuah kasus pembunuhan, yaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan puncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat-empat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua mahkamah sebagai kasus pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragukan lagi tentang pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain itu? BUKTI-BUKTI PENDUKUNGWalaubagaimanapun kita akan mengemukakan lagi beberapa bukti pendukung supaya lebih meyakinkan kita tentang golongan Syiah itulah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain. Di antaranya ialah Tidak sukar untuk kita terima mereka sebagai pembunuh Sayyidina Husain apabila kita melihat kepada sikap mereka yang biadap terhadap Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan sebelum itu. Begitu juga sikap mereka yang biadap terhadap orang-orang yang dianggap oleh mereka sebagai Imam selepas Sayyidina Husain. Bahkan terdapat banyak pula bukti yang menunjukkan merekalah yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan beberapa orang Imam walaupun mereka menuduh orang lain sebagai pembunuh Imam-imam itu dengan menyebar luaskan propaganda- propaganda mereka terhadap tertuduh itu. Di antara Kebiadaban mereka terhadap Sayyidina Ali ialah mereka menuduh Sayyidina Ali berdusta dan mereka pernah mengancam untuk membunuh Sayyidina Ali. Bahkan Ibnu Muljim yang kemudiannya membunuh Sayyidina Ali itu juga mendapat latihan serta didikan untuk menentang Sayyidina Utsman di Mesir dan berpura-pura mengasihi Sayyidina Ali. Dia pernah berjanji sebagai pengawal Sayyidina Ali selama beberapa tahun di Madinah dan dalam Jilaau Al' Uyun disebutkan bahawa Abdul Rahman Ibn Muljim adalah salah seorang daripada kumpulan yang terhormat yang telah dikirimkan oleh Muhammad bin Abu Bakr dari Mesir. Dia juga telah berbai'ah dengan memegang tangan Sayyidina Ali dan dia juga berkata kepada Sayyidina Hasan, " Bahwa aku telah berjanji dengan Tuhan untuk membunuh bapamu dan sekarang aku menunaikannya. Sekarang wahai Hasan jika engkau mau membunuhku, bunuhlah. Tetapi kalau engkau maafkan aku, aku akan pergi membunuh Muawiyah pula supaya engkau terselamat daripada kejahatannya". Jilaau Al ﷻ‬'yun, ms 218 Tetapi setelah golongan Syiah pada ketika itu merasakan rencana mereka semua akan gagal apabila perjanjian damai di antara pihak Sayyidina Ali dan Muawiyah disetujui, maka golongan Syiah yang merupakan musuh-musuh Islam yang menyamar atas nama Islam itu memikirkan diri mereka tidak selamat apabila perdamaian antara Sayyidina Ali dan Muawiyah berlaku. Maka golongan mereka telah mengasingkan diri daripada mengikuti Sayyidina Ali dan mereka menjadi golongan Khawarij sementara golongan yang lain tetap berada bersama Sayyidina Ali. Perpecahan yang berlaku ini sebanarnya satu taktik mereka untuk mempergunakan Sayyidina Ali demi kepentingan mereka yang jahat itu dan untuk berlindung di balik beliau dari hukuman dikarena kan pembunuhan mereka terhadap Khalifah Utsman. Sayyidina Hasan pula pernah ditikam pahanya oleh golongan Syiah hingga tembus kemudian mereka menunjukkan pula kebiadabannya terhadap Sayyidina Hasan dengan merampas harta bendanya dan menarik kain sajadah yang diduduki oleh Sayyidina Hasan. Ini semua tidak lain karena Sayyidina Hasan telah bersedia untuk berdamai dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan bukan hanya itu saja mereka telah menuduh Sayyidina Hasan sebagai orang yang menghinakan orang-orang Islam dan sebagai orang yang mencoreng muka orang-orang Mukmin. Kebiadaban Syiah dan kebusukan hatinya ditujukan juga kepada Imam Jaafar As Shadiq bila seorang Syiah yang sangat setia kepada Imam Jaafar As Shadiq yaitu Rabi' menangkap Imam Jaafar As Shadiq dan membawanya kehadapan Khalifah Al-Mansur supaya dibunuh. Rabi' telah memerintahkan anaknya yang paling keras hati supaya menyeret Imam Jaafar As Shadiq dengan kudanya. Ini tersebut di dalam kitab Jilaau Al ' Uyun karangan Mulla Baqir Majlisi. Di dalam kitab yang sama pengarangnya juga menyebutkan kisah pembunuhan Ali Ar Ridha yaitu Imam yang ke delapan dari pihak Syiah, bahwa beliau telah dibunuh oleh Sabih Dailamy, seorang fanatik Syiah dengan perintah Al Makmun. Bagaimanapun diceritakan bahawa selepas dibunuh itu Imam Ar Ridha dengan mukjizatnya terus hidup kembali dan tidak ada bekas sabetan pedang di tubuhnya. Bagaimanapun Syiah telah menyempurnakan tugasnya untuk membunuh Imam Ar Ridha. Oleh karena itu tidaklah heran golongan yang sampai begini biadabya terhadap Imam-imam boleh membunuh Sayyidina Husain tanpa belas kasihan di medan jadi kita akan mengatakan bagaimana mungkin pengikut-pengikut setia Imam-imam ini yang dikenali dengan 'syiah' boleh bertindak kejam pula terhadap Imam-imamnya? Tidakkah mereka sanggup mempertahankan nyawa demi mempertahankan Iman-imam mereka? Secara ringkas bolehlah kita katakan bahawa 'perasaan keheranan' yang seperti ini mungkin timbul dari dalam fikiran Syiah, yang tidak mengetahui latar belakang terbentuknya aliran Syiah itu sendiri. Mereka hanya menerima secara membabi buta perilaku orang-orang terdahulu. Adapun orang-orang yang mengadakan sesuatu faham dengan tujuan-tujuan tertentu dan masih hidup ketika ajaran dan aliran itu bermula, tentu saja mereka sedar maksud dan tujuan mereka mengadakan ajaran tersebut. Pada lahirnya mereka menunjukkan taat setia dan kasih sayang kepada Imam-imam itu, tetapi pada hakikatnya adalah sebaliknya. Di antara bukti yang menunjukkan tidak ada peranan Yazid dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala, bahkan golongan Syiahlah yang bertanggungjawab membunuh beliau bersama dengan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongan itu, ialah adanya hubungan yang eratdi antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, selepas berlakunya peperangan Siffin dan juga selepas berlakunya peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tidak mungkin orang-orang yang berakhlak muliaseperti kalangan Ahlul Bait akan menjalin hubungandengan orang-orang yang diketahui oleh mereka sebagai pembunuh-pembunuh atau orang-orang yang bertanggungjawab di dalam membunuh ayah, datuk atau saudara mereka Sayyidina Husain. Hubungan ini selain daripada menunjukkan pemerintah-pemerintah dari kalangan Bani Muawiyah dan Yazid sebagai orang yang tidak bersalah di dalam pembunuhan ini, ia juga menunjukkan mereka adalah golongan yang bersikap baik kepada Ahlul Bait dan sentiasa menjalin ikatan kasih sayang di antara mereka dan Ahlul Bait. Di antara contoh hubungan persemendaan ini ialah1. Anak perempuan Sayyidina Ali sendiri bernama Ramlah telah menikah dengan anak Marwan bin Al-Hakam yang bernama Muawiyah yaitu saudara kepada Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. Ibn Hazm-Jamharatu Al Ansab, 802. Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali menikah dengan Amirul Mukminin Abdul Malik sendiri yaitu khalifah yang ke empat dari kerajaan Bani Umaiyah. Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 9 693. Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali yaitu Khadijah menikah dengan anak gubernur 'Amir bin Kuraiz dari Bani Umaiyah bernama Abdul Rahman. Jamharatu An Ansab, 68. ' Amir bin Kuraiz adalah gubernur bagi pihak Muawiyah di Basrah dan dalam peperangan Jamal dia berada di pihak lawan Sayyidina Sayyidina Hasan pula bukan seorang dua yang telah menikah dengan pemimpin-pemimpin kerajaan Bani Umaiyah bahkan sejarah telah mencatatkan 6 orang daripada cucu. beliau telah menikah dengan mereka yaitu 1. Nafisah binti Zaid bin Hasan menikah dengan Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik bin Zainab binti Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali juga telah menikah dengan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Zainab ini adalah di antara orang yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah dan dia adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala dengan mata kepalanya Ummu Qasim binti Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali menikah dengan cucu Sayyidina Uthman yaitu Marwan bin Aban. Ummu Qasim ini selepas kematian suaminya Marwan menikah pula dengan Ali Zainal Abidin bin Al Cucu perempuan Sayyidina Hasan yang keempat telah menikah dengan anak Marwan bin Al-Hakam yaitu Cucu Sayyidina Hasan yang kelima bernama Hammaadah binti Hasan Al Mutsanna menikah dengan anak saudara Amirul Mukminin Marwan bin Al Hakam yaitu Ismail bin Abdul Cucu Sayyidina Hasan yang keenam bernama Khadijah binti Husain bin Hasan bin Ali juga pernah menikah dengan Ismail bin Abdul Malik yang tersebut tadi sebelum sepupunya diingat bahawa mereka semua yang tersebut meninggalkan kalangan anak cucu Sayyidina Husain pula yang telah menjalin pernikahan dengan individu-individu dari keluarga Bani Umaiyah, antaranya ialah 1. Anak perempuan Sayyidina Husain yang terkenal bernama Sakinah. Selepas beberapa lama terbunuh suaminya Mus'ab bin Zubair, beliau telah menikah dengan cucu Amirul Mukminin Marwan yaitu Al Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan. Asbagh ini adalah saudara Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sedangkan isteri Asbagh yang kedua ialah anak dari Amirul Mukminin Yazid yaitu Ummu Yazid. Jamharatu Al -Ansab2. Sakinah anak Sayyidina Husain yang tersebut tadi pernah juga menikah dengan cucu Sayyidina Uthman yang bernama Zaid bin Amar bin anak cucu dari saudara-saudara Sayyidina Husain yaitu Abbas bin Ali dan lain-lain juga telah menjalin perhubungan baik dengan keluarga Umaiyah. Di antaranya yang boleh disebutkan ialah Cucu perempuan dari saudara Sayyidina Husain yaitu Abbas bin Ali bernama Nafisah binti Ubaidillah bin Abbas bin Ali menikah dengan cucu Amirul JAKARTA – Perang Thaf dengan dua pasukan yang tak berimbang di Karbala berujung pada kematian cucu Rasulullah ﷺ, Al Husain. Tragedi pada tahun 61 Hijriyah itu merupakan musibah yang begitu besar. Dikutip dari buku Inilah Faktanya karya Dr Utsman bin Muhammad al-Khamis, pada pagi hari Jumat, berkobarlah peperangan antara dua pasukan tersebut. Karena, Al Husain radhiyallahu anhu menolak untuk menyerah kepada Ubaidullah bin Ziyad. Perang ini terjadi antara dua pasukan yang tidak sermbang. Maka, para pengikut Al Husain memandang bahwa percuma saja menghadapi pasukan sebanyak ini. Maka, satu-satunya keinginan mereka adalah mati membela Al Husain bin Ali. Mereka pun gugur satu persatu di hadapan Al Husain, sampai semuanya meninggal. Tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali Al Husain dan anaknya yang sedang sakit, Ali bin Al Husain. Hanya tinggal Al Husain radhiyallahu anhu sendirian. Sepanjang siang, tidak ada seorang pun yang berani mendekat ke arahnya, karena mereka takut mendapat petaka bila membunuhnya. Situasi ini terus berlangsung sampai kemudian Syamr bin Dzul Jausyan datang, kemudian berseru “Celakalah kalian! Semoga ibu-ibu kalian kehilangan kalian! Kepung dan bunuh dia!” Mereka pun maju dan mengerubungi Al Husain bin Ali. Al Husain berjuang di tengah-tengah mereka dengan pedangnya, sehingga berhasil membunuh siapa saja yang bisa dibunuh. Hari itu ia seperti binatang buas dalam keberanian. Namun keberanian saja tak cukup mumpuni untuk mengalahkan kuantitas yang banyak. Syamr berseru “Celakalah kalian! Apa yang kalian tunggu? Ayo maju!” Mereka pun maju hingga al-Husain radhiyallahu anhu terbunuh. Baca juga Perang Mahadahsyat akan Terjadi Jelang Turunnya Nabi Isa Pertanda Kiamat Besar? Orang yang secara langsung menewaskan Al Husain adalah Sinan bin Anas an-Nakhai. Dialah yang memotong kepala Al Husain. Ada yang mengatakan, yang membunuh secara langsung adalah Syamr, semoga Allah Azza wa Jalla membinasakan mereka. Setelah Al Husain radhiyallahu anhu terbunuh, kepalanya dibawa ke hadapan Ubaidullah di Kufah. Sesampainya di sana, Ubaidullah menggosok-gosok kepala al-Husain dengan sebatang kayu seraya memasukkannya ke mulutnya, dan berkata, “Alangkah bagus giginya!” Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Demi Allah, aku akan mendoakan keburukan untukmu! Sungguh, aku melihat sendiri Rasulullah ﷺ mencium mulut Al Husain tempat engkau memasukkan kayumu itu!” Al-Mujamul Kabir Ibrahim an-Nakhai berkata, “Seandainya aku termasuk orang-orang yang ikut dalam pembunuhan Al Husain, kemudian aku dimasukkan ke dalam Surga, niscaya aku akan sangat malu lewat di depan Rasulullah SAW dan wajahku dilihat oleh beliau.” Al-Mujamul Kabir

nasib pembunuh husain bin ali